Begu Ganjang dalam suku Batak

0
5875
views
begu ganjang
begu ganjang

Dalam kamus orang Batak, kata begu ganjang terdiri dari 2 kata, yaitu “begu” yang artinya setan atau hantu dan kata “ganjang” yang artinya panjang. Jadi begu ganjang diartikan sebagai hantu yang ukurannya panjang. Pemahaman yang beredar di kalangan masyarakat batak, bila ada yang melihat begu (hantu) jenis ini, maka awalnya dia berukuran pendek, namun bila dilihat terus menerus, ia akan bertambah semakin memanjang ke atas. Dan di saat orang melihatnya terus hingga ke atas di saat itulah setan/begu ini mencekik atau membunuh si korban. Dengan demikian begu ini dianggap sangat berbahaya sebab diyakini dapat membuat orang lain sakit secara tiba-tiba, bahkan tewas dengan cara yang misterius sifatnya.

Baca juga : Isu Begu Ganjang Dalam Masyarakat

Begu ganjang adalah, konon, hantu peliharaan yang bisa disuruh pemiliknya untuk mencari kekayaan

kaya karena begu ganjang
kaya karena begu ganjang

Begu ganjang adalah, konon, hantu peliharaan yang bisa disuruh pemiliknya untuk mencari kekayaan, dengan syarat mengorbankan nyawa manusia sebagai tumbal. Begu ganjang; kalau diterjemahkan bebas menjadi hantu panjang. Menurut cerita dari mulut ke mulut, begu ganjang di zaman dulu sengaja dipelihara oleh warga untuk menjaga ladang atau lahan pertanian. Di zaman sekarang fungsi begu ganjang berubah yaitu untuk mencari kekayaan. Si pemilik begu ganjang, konon, harus membunuh seseorang untuk memuluskan niat memperoleh harta itu. Katanya, begu ganjang bekerja pada malam hari khususnya pada jam 24.00 WIB sampai dengan kira-kira pukul 04.00 WIB. Begu Ganjang ini seringkali mengincar wanita yang baru melahirkan. Dalam berbagai kasus, orang yang memelihara begu ganjang sering dituduhkan pada warga pendatang.

Pemahaman yang berkembang di kalangan masyarakat batak menyatakan bahwa begu ini dipelihara untuk memberikan keuntungan kepada si pemilik

begu ganjang mengorbankan manusia
begu ganjang mengorbankan manusia dan memberikan keuntungan bagi pemiliknya

Pemahaman yang berkembang di kalangan masyarakat batak menyatakan bahwa begu ini dipelihara untuk memberikan keuntungan kepada si pemilik. Dia dipahami dapat mencari harta kekayaan untuk kepentingan pribadi si pemilik, akan tetapi syaratnya adalah mengorbankan nyawa manusia sebagai tumbal dari kekayaannya. Padahal pada awalnya, masyarakat batak memahami bahwa begu ganjang ini dipandang sebagai suatu proteksi saja bagi pemeliharanya, yang bermakna untuk membela dan mempertahankan harta miliknya. Begu ganjang dipelihara untuk menjaga ladang atau lahan pertanian dan dari pencurian orang dan dari hama yang dapat merusak hasil panen. Tapi lama-kelamaan makna itu semakin bergeser, dari yang bertugas menjaga dan mempertahankan harta milik, berubah fungsi menjadi mencari harta kekayaan bagi tuannya dengan cara membunuh seseorang guna meluluskan niat tuannya memperoleh harta itu. Dikatakan begu ganjang sebab bentuknya seperti pohon enau dan bagi orang tertentu yang menyebutkan pernah melihatnya, apabila melihat begu tersebut ke atas, bentuk begunya akan kelihatan semakin tinggi. Dan dilihat dari segi kerjanya dan tujuan dari yang memeliharanya, maka ada persamaan dengan orang yang memelihara tuyul, yaitu digunakan/dipelihara pemiliknya untuk memperoleh kekayaan dengan cara mistis yang cenderung kejam. Kejam sebab biasanya ada yang akan dikorbankan. Ironisnya, yang menjadi korban begu ganjang bukan hanya musuh pemiliknya atau orang lain yang berada di lingkungannya bermasyarakat, akan tetapi juga orang-orang terdekatnya (keluarganya sendiri).

Orang-orang Batak dulu percaya bahwa dimensi makro-kosmos sangat dipengaruhi kekuatan-kekuatan gaib yang bersumber dari “Begu”

begu ganjang sumatra
begu ganjang sumatra

Orang-orang Batak dulu percaya bahwa dimensi makro-kosmos sangat dipengaruhi kekuatan-kekuatan gaib yang bersumber dari “Begu”. Secara halus kata terjemahan “begu” adalah “roh”, namun sebagian besar mengartikanya dengan sebutan “hantu”. Suku Batak percaya bahwa eksistensi kehidupan di mikro-kosmos, terutama keluarga dan lingkungan tempat tinggal, “begu” punya peran penting. Penjaga rumah disebut “Begu Jabu”, pengawas kampung dinamai “Begu Perkuta” dan penguasa gunung disebut “Begu Deleng”. Sekali pun banyak dikenal jenis-jenis “begu”, hanya “Begu Jabu” yang dianggap paling “baik”. Ia merupakan kumpulan dari “roh” orang-orang dicintai yang telah meninggal dunia (kakek, nenek, bapak, ibu, isteri, suami, anak). Itu sebabnya pada acara tertentu, pesta umpamanya, “Begu Jabu” mesti dapat “cibal-cibalen”(adat Karo), “tibalhon” (Simalungun), “pelean” (batak) atau semacam “sesajen” pada kebudayaan Jawa. Adapun dikenal jahat hanya “Begu Mata Megara” dan “Begu Aji Turtur” yang kerap menimbulkan musibah dan menebar penyakit.

Sedangkan peran dan sosok “Begu Ganjang” masih dalam perdebatan

begu ganjang masih menjadi bahan pertanyaan
begu ganjang masih menjadi bahan pertanyaan

Sedangkan peran dan sosok “Begu Ganjang” masih dalam perdebatan. Umumnya masyarakat batak menggambarkan dedemit jenis ini berkarakteristik bengis, kejam, hitamlegam dan bila dipandang semakin bertambah tinggi/besar. Pemujanya percaya bahwa “Begu Ganjang” dapat menambah kekuatan pisik, wibawa, benteng pertahanan rumah, penjaga tanaman di ladang, mengobati orang sakit serta mencari sutau barang yang hilang/dicuri orang. Disinyalir pula bahwa orang yang meninggal secara mendadak dengan ciri mata melotot, jenjang leher kebiru-biruan dan wajah menghitam, selalu dikaitkan sebagai “hasil kerja” “Begu Ganjang”.

“Begu Ganjang” sebagai salah-satu sumber kekuatan ajaib adalah sebuah mitos kepercayaan dalam kebudayaan Batak. Sehingga bisa menjadi faktor pendorong perubahan sosial, walau dalam banyak kasus bertentangan dengan tuntutan modernisasi. Satu diantaranya adalah timbulnya ketegangan sosial akibat benturan sistem kepercayaan dengan kerancuan pikiran masyarakat modern.

Leave a Reply