Beginilah Mangalua atau Kawin Lari dalam Adat Batak

0
2806
views
kawin lari dalam adat batak
kawin lari dalam adat batak

Tidak diragukan lagi bahwa yang terpenting dari tujuan nikah ialah memelihara dari perbuatan zina dan semua perbuatan-perbuatan keji, serta tidak semata-mata memenuhi syahwat saja. Memang bahwa memenuhi syahwat itu merupakan sebab untuk bisa menjaga diri, akan tetapi tidaklah akan terwujud penjagaan itu kecuali dengan tujuan dan niat. Maka tidak benar memisahkan dua perkara yang satu dengan lainnya, karena manusia bila mengarahkan semua keinginannya untuk memenuhi syahwatnya dengan menyandarkan pada pemuasan nafsu.

kawin lari dalam adat batak
kawin lari dalam adat batak

“Beta Mangalua”

Ada jalan lain yang dilakukan oleh suku Batak untuk melasungkan pernikahan terlepas dari prosedur pernikahan ideal menurut adat batak. Atau sering disebut “kawin lari”. Nah, itu dikatakan dalam adat Batak “mangalua”. Jika diartikan secara harfiah, artinya adalah melepaskan diri. Pernikahan yang terjadi tanpa restu orangtua, atau bisa dikatakan pernikahan yang tidak diadati (mangadati).

Secara konseptual berati sepasang muda-mudi yang kawin dengan cara di luar prosedur perkawinan ideal karena satu atau beberapa hal, seperti karena masalah ekonomi (masalah pembayar sinamot yang kurang), masalah sosial (perbedaan status ditengah kehidupan masayarakat) ataupun masalah yang lainnya.

Dalam hal ini berarti kawin tanpa melalui prosedur pembayaran sinamot terlebih dahulu. Dalam mangalua ini seakan akan adalah soal belakang, yang penting adalah mereka kawin dulu.

Adat menyebut perkawinan mangalua ini bahwa si pemuda mengandalkan kekuatan, mengabaikan hukum (pajojo gogo), papudi uhum. Biasanya si perempuan tidak akan mau berlama-lama dalam situasi mangalua ini ( dalam situasi belum diadatkan atau mangadati).

Dalam pelaksanaan mangalua ini ada dua cara yang dikenal yaitu:

Sebagai langkah pertama mereka pergi kerumah salah satu keluarga pengetua atau terpercaya, dan dirumah tersebut calon pengantin perempuan dititipkan. Berikutnya laporan kepada orangtua, pengetua adat atau pemimpin agama minta pemberkataan atau restu.

Perempuan itu langsung dibawa oleh si pria kerumahnya tanpa lebih dulu diberkati atau direstui. Perkawinan seperti ini disebut juga marbagas roha-roha (berumah tangga sesuka hati). Namun perkawinan telah terjadi, kewajiban atau pertanggungjawaban adat wajib dilaksanakan di kemudian hari.

Leave a Reply