Sinamot, Tuhor ni Boru Dianggap Menghina. Apa yang salah dengan Kalimat itu?

0
2151
views
apa yang salah dengan tuhor ni boru
apa yang salah dengan tuhor ni boru

Secara antropologi, Tuhor ni boru, mas kawin atau mahar adalah harta yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki (atau keluarganya) kepada mempelai perempuan (atau keluarga dari mempelai perempuan) pada saat pernikahan. Jaman dulu Tuhor ni boru atau mas kawin atau mahar adalah sebagai bentuk lain dari transaksi jual beli sebagai kompensasi atas kerugian yang diderita pihak keluarga perempuan karena kehilangan beberapa faktor pendukung dalam keluarga seperti kehilangan tenaga kerja, dan berkurangnya tingkat fertilitas dalam kelompok. Itulah makna dan tujuan sebenarnya.

TUHOR NI BORU

Apa yang salah dengan kalimat itu?
Jaman sekarang mungkin kalimat itu dianggap menghina pihak parboru, seolah olah parboru telah menjual putrinya, tapi dulu kalimat itu adalah kalimat yang biasa diucapkan orang orang tua kita. Terutama orang tua yang sudah manjalo tuhor ni boruna. Tidak ada yang tersinggung ketika seseorang ditanya berapa besar Tuhor ni boru yang diterimanya, karena memang demikian adanya. Orang akan penasaran ingin mengetahui berapa Tuhor ni boru yang diterima.

SINAMOT

Sinamot artinya harta atau materi, jika dikaitkan dengan Tuhor ni boru maka artinya sama saja. Memberi harta atau materi (manuhor atau membeli) mempunyai makna dan tujuannya yang sama juga. Lantas, jika Tuhor ni boru dan Sinamot mempunyai makna dan tujuan yang sama, lalu untuk apa dipersoalkan?. Tidak hanya pada suku Batak saja pemberian harta atau materi kepada pihak perempuan ini berlaku, suku-suku di Indonesia atau di belahan dunia lain pun hal ini berlaku dan juga mempunyai makna dan tujuan yang sama pula. Pemberian harta atau materi pada upacara perkawinan dalam sejarah tertua tercatat pada piagam “Hammurabi” Dari dinasti Babilonia.

Beberapa hari yang lalu artis cantik Raisha menikah dengan Hamish Daud, orang orang juga penasaran ingin tahu berapa Tuhor ni boru yang diterima pihak keluarga.
Ternyata setengah kilo gram emas…..
Wow… Banyak sekali!
Tapi tidak lantas ada anggapan masyarakat yang mengatakan orang tua Raisha telah menjual putrinya! Atau Komnas HAM, menteri dan LSM menganggap telah terjadi pelanggaran hukum lalu bertindak karena ini adalah trafficking, perdagangan manusia!
Karena memang demikianlah adat budaya kita, Warisan leluhur yang telah disepakati bersama sehingga tidak ada disitu pelanggaran hukum postif, etika maupun hukum-hukum lainnya yang berlaku dimasyarakat.
Mengapa sebagian orang Batak tidak setuju atau protes dengan istilah Tuhor ni boru?
Perlukah diganti kata Tuhor ni boru? mas kawin? mahar? atau apapun namanya pada suku-suku yang lain.
Karena ketidakpahaman adat, budaya dan sejarah!
Untuk apa diganti jika masyarakat dunia ini tidak keberatan dan itu bukan trafficking?..

huff…….

Kalau menurut kamu bagaimana?

Baca juga : Mendefinisikan Kembali Arti Sinamot dalam Adat BatakĀ 

Leave a Reply