Tulila, Alat Musik ‘Mistis’ Batak yang Hampir Punah

0
1897
views
Tulila, Alat Musik ‘Mistis' Batak yang Hampir Punah
Tulila, Alat Musik ‘Mistis' Batak yang Hampir Punah

Tulila nyaris tidak dikenal oleh kalangan generasi muda Batak sekarang, tidak seperti seruling/suling yang lebih kita kenal. Padahal keduanya sama-sama alat musik tiup khas Batak. Mungkin sebagian kita pernah mendengar suara Tulila, ataubahkan secara gak sadar pernah melihat Tulila dimainkan bersama dengan gondang atau uninguningan di saat ada acara pernikahan adat Batak.

Nah, Tulila ini adalah alat musik batak yang terbuat dari bambu. Dulunya alat musik ini dipakai untuk penyembahan dan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Pencipta alam Semesta. Memang bentuk Tulila hampir seperti seruling/suling pada umumnya, hanya saja bentuknya lebih kecil dan unik.

Musisi Batak yang juga pemain Tulila, Hardoni Sitohang, mengatakan, pada umumnya alat musik Batak Toba adalah alat komunikasi kepada Tuhan. Baik dalam keadaan sedih, suka cita, pesta panen, atau meminta datang hujan.

Hardoni Sitohang Lestarikan Tulila Alat Musik Batak
Hardoni Sitohang Lestarikan Tulila Alat Musik Batak

“Tapi Tulila hanya dipakai sebagai media komunikasi kepada Tuhan secara personal. Kalau dianggap mistis, ya itu pemahaman pada masa itu,” kata Hardoni lewat video Youtube belum lama ini.

Mengutip sejumlah referensi, dosen Universitas Negeri Medan ini menjelaskan, Tulila yang bisa mengeluarkan suara seperti burung itu dulunya merupakan alat penakluk wanita yang sombong.

Namun, memainkannya harus melihat waktu, arah mata angin dan lokasi tempat tinggal si perempuan yang ingin ditaklukkan itu.

“Ketika si tulila ini dimainkan si laki-laki, perempuan itu akan mencari bunyi sampai dia ketemu dengan si lelaki itu,” papar pria kelahiran Samosir 23 April 1978 ini.

Setelah bertemu secara langsung, kata Hardoni perempuan itu akan mengingat bahwa laki-laki yang menyapa  itu bermain Tulila.

“Pada saatnya si perempuan itu akan minta maaf atas sikap dan karakternya pada masa lalu,” ujarnya.

Menurut Hardoni, Budayawan Batak Monang Naipospos pernah mengatakan kepadanya bahwa Tulila dulu digunakan sebagai media pengusir burung.

“Ketika saya tanya kembali, selain itu Tulila digunakan sebagai media martandang (bertamu ke rumah wanita). Ada benang merah, adanya bunyi Tulila bersumber dari suara burung,” kata Hardoni.

Baca juga : Sinamot, Tuhor ni Boru Dianggap Menghina. Apa yang salah dengan Kalimat itu?

Leave a Reply